CommoPlast

Oil rebounded from multi-year lows on heightened tensions between US and Venezuela

Prices rebounded on Wednesday after sliding to four-and-a-half-year lows, as fresh geopolitical tensions reintroduced a risk premium into a market that had been dominated by oversupply concerns.


Brent  NYMEX 


Harga minyak bumi rebound pada hari Rabu setelah merosot ke level terendah dalam empat setengah tahun, seiring munculnya kembali ketegangan geopolitik membuat penambahan risiko ke dalam pasar yang sudah didominasi kekhawatiran kelebihan pasokan. Sinyal Amerika Serikat mengenai langkah lebih keras terhadap Rusia, bersama pengumuman blokade baru terhadap ekspor minyak Venezuela, membantu menghentikan aksi jual yang terjadi lalu.

Minyak bumi Brent ditutup $59,68 per barel, naik $0,76 atau 1,3%, memulihkan sebagian kerugian setelah menembus batas $60 pada sesi lalu. Acuan AS, WTI, juga menguat dan ditutup $55,94 per barel, naik $0,67 atau 1,2%.

Sentimen pasar berbalik cepat ketika perkembangan geopolitik menutupi optimisme lalu terkait negosiasi perdamaian di Eropa Timur. Pemerintahan AS menyatakan sedang mempertimbangkan sanksi yang menargetkan apa yang disebut sebagai “armada bayangan” tanker Rusia apabila proposal perdamaian ditolak.

Pada saat sama, Presiden Donald Trump mengumumkan blokade terhadap ekspor minyak Venezuela, menyatakan negara itu “dikepung armada terbesar yang pernah dihimpun dalam sejarah Amerika Selatan.”

Berita-berita itu memicu aksi penutupan posisi short di pasar minyak, meski momentum kenaikan tetap terbatas akibat lemahnya fundamental mendasari. Data US Energy Information Administration (EIA) terlihat lonjakan tajam stok produk olahan, stok bensin meningkat 4,8 juta barel lebih dari dua kali ekspektasi pasar, mengindikasikan permintaan lokal lesu.

Para analis menyatakan meski risiko geopolitik memberikan dukungan waktu dekat, prospek yang meluas tetap bersifat bearish. Dampak potensial blokade Venezuela dipandang kecil, mengingat negara itu hanya menyumbang kurang dari 1% pasokan global, sementara International Energy Agency terus memproyeksikan surplus cukup besar di pasar minyak global pada tahun datang. 


Written by: 
Aiman Haikal