|
Oil plunged 4% as Trump rhetoric defuses Iran supply-risk premiumOil prices plummeted on Thursday, snapping a five-day rally as de-escalating rhetoric from the White House regarding Iranian civil unrest prompted traders to aggressively unwind geopolitical risk premiums. |
|
Harga minyak anjlok pada Kamis, mengakhiri reli lima hari berturut-turut, setelah retorika mereda dari Gedung Putih terkait keresahan sipil di Iran mendorong para pedagang untuk agresif melepas risiko geopolitik. Pembalikan arah ini diperparah data lokal stok yang bearish serta tanda-tanda pemulihan pasokan struktural di Amerika Selatan.
Minyak bumi Brent ditutup turun $2,76 atau 4,15% menjadi $63,76 per barel.
Minyak bumi WTI turun $2,83 atau 4,56% menjadi $59,19.
Pemicu utama aksi jual ini yakni perubahan sikap Presiden AS Donald Trump, yang mengindikasikan tindakan keras mematikan terhadap para pengunjuk rasa di Iran tampaknya mulai kehilangan intensitas. Pernyataan ini efektif menetralkan kekhawatiran akan intervensi militer AS yang segera, sebelumnya mendorong Brent ke level tertinggi empat bulan di $66,82 hanya 24 jam lalu.
Tekanan turun juga bertambah setelah Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan kenaikan stok minyak bumi dan bensin AS yang lebih besar dari perkiraan. Surplus fundamental ini semakin diperkuat perkembangan di Venezuela, di mana ekspor dilaporkan mulai pulih setelah pertukaran diplomatik produktif antara Washington dan Caracas. Para analis menilai kembalinya barel Venezuela akan menjadi penahan signifikan bagi harga global sepanjang kuartal pertama 2026.
Meski terjadi penurunan tajam intraday, sinyal permintaan waktu panjang tetap beragam. Sementara OPEC memperkirakan pasar seimbang pada 2026, data impor China untuk Desember mencetak rekor, menunjukkan kenaikan 17% setahunan, mengindikasikan konsumsi dasar di Asia tetap menjadi penopang penting, meski volatil, bagi pasar.
Written by: Aiman Haikal