|
Oil plummeted over 11% in historic selloff as US de-escalation signals clash with ongoing physical disruptionsCrude suffered its steepest single-session collapse since 2022, as geopolitical risk premium unwound. |
|
Harga minyak mengalami penurunan satu sesi paling tajam sejak 2022 pada hari Selasa, didorong pelepasan agresif risiko geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump memberi sinyal de-eskalasi cepat konflik di Timur Tengah.
Brent anjlok $11,16, atau 11,2%, dan ditutup pada $87,80 per barel.
WTI AS merosot $11,32, atau 11,9%, dan ditutup pada $83,45 per barel.
Tiba-tiba membalik lonjakan sesi lalu yang sempat menguji level tertinggi empat tahun di atas $119.
Penyesuaian harga tajam ini mengikuti sinyal terkoordinasi dari Washington. Presiden Donald Trump menggambarkan kampanye militer itu sebagai “sangat lengkap” setelah pembicaraan dengan Kremlin, dan Departemen Energi AS mengonfirmasi sebuah kapal tanker Angkatan Laut AS berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman. Langkah ini sementara meredakan kekhawatiran blokade maritim berkepanjangan, yang juga diperkuat pertimbangan politik lokal menjelang pemilu paruh waktu bulan November.
Sinyal kebijakan turut menambah tekanan penurunan. Spekulasi mengenai kemungkinan pelonggaran sanksi minyak Rusia, dikombinasikan diskusi di antara para menteri energi G7 mengenai pelepasan terkoordinasi Cadangan Minyak Strategis, memperkuat ekspektasi otoritas dapat aktif menambah pasokan barel untuk menahan lonjakan harga.
Namun pasar fisik tetap terbatas. Sekitar 1,9 juta barel per hari kapasitas penyulingan di kawasan Teluk sedang tidak berproduksi, disorot serangan drone baru terhadap kilang Ruwais milik ADNOC dan kemacetan pengiriman masih berlangsung yang dilaporkan Saudi Aramco. Para analis memperingatkan menghidupkan kembali sumur yang terhenti bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan setelah gencatan senjata, sehingga menjaga pasokan tetap ketat meskipun ada optimisme politik.
Para trader kini menghadapi tarik-menarik yang volatil, sentimen bearish didorong sinyal kebijakan dan geopolitik berhadapan dengan gangguan logistik yang sudah mengakar. Hasilnya adalah fluktuasi harga waktu pendek meningkat dan ketidakpastian terus berlanjut mengenai seberapa cepat rantai pasokan bisa kembali normal.
Written by: Aiman Haikal