|
Freightos Baltic: Container rates flip positive year-on-year despite weak demand as fuel constraints biteSurging fuel costs and Middle East bottlenecks have flipped global container rates positive year-on-year, defying weak seasonal demand. |
|
|
Route |
Cost (USD/FEU) |
Changes |
|
Updated on 07 April 2026 |
||
|
Asia – US West Coast |
$ 2,448 |
á 11% |
|
Asia – US East Coast |
$ 3,385 |
|
|
Asia – Northern Europe |
$ 2,927 |
á 2% |
|
Asia – Mediterranean |
$ 3,844 |
â 2% |
Baca lebih detail di Freightos
Pasar pengiriman laut global memperlihatkan kekuatan harga tidak biasa periode musim sepi tradisional. Meskipun terjadi perlambatan permintaan pasca Tahun Baru Imlek dan kelebihan kapasitas struktural masih berlanjut, tren tarif berbalik dari penurunan tahunan lalu. Momentum kenaikan ini didorong surcharge dari operator pelayaran serta tekanan bahan bakar yang meningkat akibat krisis berkepanjangan di Timur Tengah, sehingga menjaga tarif tetap tinggi meskipun permintaan dasar masih lemah.
Sementara tarif spot transpasifik dan Asia–Eropa pada awal 2025 jauh lebih rendah dibanding tahun lalu, selisih itu kini hilang. Tarif ke Pantai Barat AS melonjak hampir 40% sejak sebelum perang, dan kini sekitar 8% lebih tinggi dibanding tahun lalu. Demikian pula, tarif Asia–Eropa Utara naik 20% dalam periode sama, dan berada 22% tahunan lebih tinggi. Tarif Asia–Mediterania masih tetap tinggi dibanding akhir Februari, meskipun sedikit turun dari puncaknya pada pertengahan Maret.
Namun, ketidakseimbangan fundamental antara pasokan dan permintaan membatasi efektivitas kenaikan harga operator pelayaran. Level acuan dan tarif diskon masih berada di bawah Freight All Kinds (FAK), yaitu tarif dasar standar ditetapkan operator untuk mencakup pengiriman semua jenis kargo. Selain hambatan regulasi tetap ada, dengan US Federal Maritime Commission terus menolak permintaan operator untuk mengabaikan periode tunggu standar dalam penerapan harga baru.
Enam minggu setelah penutupan Selat Hormuz, lalu lintas masih sangat terbatas. Perlintasan memerlukan koordinasi langsung dengan Iran serta kemungkinan pembayaran di muka, sebagaimana ditunjukkan kapal CMA CGM yang baru-baru ini menjadi kapal operator Eropa besar pertama yang berhasil mendapatkan izin melintas.
Akibatnya, pasokan bahan bakar kapal (bunker) menjadi titik tekanan krusial. Singapura, sebagai pusat pengisian bahan bakar terbesar di industri, saat ini hanya memiliki stok sekitar satu bulan, sementara Rotterdam masih memiliki pasokan memadai. Gangguan berkepanjangan berpotensi memaksa operator memperlambat kecepatan pelayaran atau membatalkan jadwal pelayaran guna menghemat bahan bakar, pada akhirnya bisa mendorong kenaikan tarif pengangkutan laut lagi.
Written by: Farid Muzaffar