CommoPlast

Saudi export resumptions and persistent Hormuz flows drove 10.8% weekly Brent collapse

Crude plunged on Friday, cementing a near 11% weekly collapse as Saudi Aramco restarted Gulf terminal loadings and persistent Strait of Hormuz transit overwhelmed lagging Chinese demand and lingering Iranian maritime threats.


Brent  NYMEX 


Harga minyak bumi acuan mengalami aksi jual tajam pada Jumat, mengukuhkan penurunan mingguan signifikan seiring percepatan arus pengiriman fisik melalui Selat Hormuz meskipun ketegangan regional masih berlangsung.

Kontrak Brent internasional anjlok $3,27/barel (4,34%) ditutup $71,99/barel, menandai penurunan mingguan sebesar 10,86%. Sementara WTI AS turun $2,69/barel (3,74%) ke $69,23/barel, mencatat kontraksi mingguan sebesar 9,62%.

Narasi pasar kini berbalik drastis, dari penetapan risiko geopolitik menuju penyerapan cepat terhadap ekspektasi kelebihan pasokan struktural yang akan segera terjadi.

Pergerakan kargo fisik semakin memperkuat sentimen bearish itu. Saudi Aramco resmi kembali memuat minyak bumi di terminal Teluk Ras Tanura setelah penghentian operasional selama empat bulan, data pelacakan kapal mengonfirmasi dua kapal tanker Very Large Crude Carrier (VLCC) berkapasitas masing-masing 2 juta barel sedang memuat pasokan untuk pengiriman segera. Masuknya tiba-tiba volume minyak bumi Timur Tengah yang sebelumnya tertahan ini bertabrakan kondisi makro yang fundamental masih lemah, semakin diperparah belum pulihnya permintaan minyak bumi dari China.

Gesekan geopolitik dan kendala terbatas di pasar produk kilang menjadi satu-satunya faktor yang masih menopang pasar. Meskipun lalu lintas di Selat Hormuz mencapai level tertinggi sejak berakhirnya konflik, total volume transit masih jauh di bawah tingkat sebelum konflik, seiring Iran kembali menegaskan kontrol kedaulatannya atas jalur pelayaran itu dan memperingatkan negara-negara Teluk agar tidak berpihak kepada Amerika Serikat.

Pada saat sama, pasar distilat menengah global menghadapi potensi pengetatan pasokan signifikan. Otoritas Rusia sedang mempertimbangkan larangan ekspor diesel selama beberapa bulan menyusul serangan drone Ukraina yang melumpuhkan infrastruktur kilang minyak di dalam negeri.

Written by: Aiman Haikal