CommoPlast

Optimism on Hormuz flow recovery and impending OPEC+ supply hikes drag crude to four-month lows

Brent crude dropped 1.89% to a four-month low as advancing US-Iran ceasefire negotiations in Doha advances towards a full recovery of Hormuz flows and a projected OPEC+ production hike aggressively dismantled remaining Q2 geopolitical risk premiums.


Brent  NYMEX 


Harga minyak bumi kembali melemah ke level terendah sejak Maret pada perdagangan Rabu, didorong perkembangan positif dalam perundingan diplomatik di Qatar, yang menurut Presiden AS Donald Trump terus mengarah pada tercapainya gencatan senjata permanen serta normalisasi pelayaran melalui Selat Hormuz.

Kontrak Brent turun $1,38/barel (1,89%) dan ditutup di $71,57/barel, sekaligus membukukan penurunan sebesar $45/barel sepanjang kuartal kedua, penurunan kuartalan terdalam sejak krisis keuangan global 2008.

Sementara itu, WTI AS melemah 92 sen/barel (1,32%) ke $68,58/barel, sehingga mencatat penurunan $31/barel sepanjang kuartal kedua, menjadi pelemahan kuartalan terbesar sejak pandemi COVID-19 pada 2020.

Perbaikan hubungan diplomatik itu segera tercermin pada aktivitas logistik maritim. Wakil Presiden AS JD Vance mengonfirmasi arus kapal tanker yang melintasi jalur strategis itu telah kembali ke tingkat normal sebelum perang. Pemulihan cepat terhadap hambatan struktural ini fundamental mengubah prospek pasar, para analis dalam survei Reuters untuk pertama kalinya memangkas proyeksi harga minyak global tahun 2026 sejak konflik pecah.

Indikator fundamental pasokan turut memperkuat sentimen bearish. US Energy Information Administration (EIA) melaporkan stok minyak bumi komersial AS turun 3,8 juta barel menjadi 408,4 juta barel, level terendah sejak September 2018, didorong tingginya tingkat produksi kilang menjelang libur nasional. Namun, karena penurunan itu lebih kecil dibanding ekspektasi pasar sebesar 4,5 juta barel, data itu gagal memberikan dukungan terhadap harga minyak.

Di tingkat global, potensi kelebihan pasokan juga semakin menguat. Delegasi OPEC+ mengindikasikan aliansi itu sangat berpeluang menyetujui kenaikan target produksi untuk Agustus dalam pertemuan dijadwalkan pada Minggu mendatang, sehingga memastikan pasar ke depan akan menghadapi tambahan pasokan lebih besar.

Written by: Aiman Haikal