|
Oil edged past $95 as Hormuz mine strikes and steep US inventory draw counter workaround flowsGlobal crude oil futures settled approximately 1% higher on Wednesday, consolidating near multi-week highs in a volatile session as escalating naval hostilities in the Persian Gulf and a sharp drawdown in US commercial stockpiles outweighed the dampening effect of alternative regional supply flows. |
|
Kontrak future minyak bumi global ditutup naik sekitar 1% pada Rabu, berkonsolidasi di dekat level tertinggi dalam beberapa pekan dalam sesi volatil ketika eskalasi permusuhan angkatan laut di Teluk Persia dan penurunan tajam stok komersial US mengimbangi dampak meredam dari aliran pasokan alternatif regional.
Minyak bumi Brent sebagai acuan internasional naik 98 sen, atau 1,00%, menjadi $95,63 per barel, setelah bergerak antara kenaikan intraday sebesar $2 dan penurunan sebesar $1.
West Texas Intermediate (WTI) US naik 79 sen, atau 0,87%, menjadi $91,01 per barel.
Kedua kontrak mencatat level puncak intraday yang belum terlihat sejak 24 Juli, memperpanjang reli tajam pada sesi lalu.
Momentum bullish upstream berlanjut ketika bentrokan militer langsung antara Washington dan Teheran mencapai level paling intens sejak Juli, menandai bulan ketujuh konflik regional. Pasukan US menargetkan radar pesisir dan aset peletakan ranjau Iran, memicu serangan balasan Iran terhadap posisi militer US di seluruh Timur Tengah. Logistik fisik melalui Selat Hormuz semakin memburuk setelah dua kapal tanker minyak menabrak ranjau laut dan tidak dapat berlayar, sementara Teheran memperluas daftar kapal yang tidak mematuhi aturan dan bisa dikenai denda serta penahanan. Transit kapal komoditas harian turun menjadi empat kapal, tetap jauh di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 13 kapal dan memperkuat resiko struktural untuk transit.
Dukungan dari sisi pasokan semakin diperkuat ketatnya stok lokal di US, ketika Energy Information Administration mengonfirmasi stok komersial minyak bumi anjlok 4,5 juta barel pekan lalu, jauh melampaui ekspektasi pasar berupa penurunan 1,1 juta barel. Pengetatan upstream semakin diperburuk serangan Rusia terhadap infrastruktur energi di wilayah Odesa, Ukraina, serta ekspektasi OPEC+ akan menahan kuota output yang ada untuk Oktober.
Meskipun kenaikan sebagian tertahan perluasan pengiriman ekspor alternatif dari Irak, bottleneck angkatan laut yang terus berlangsung tetap menopang valuasi energi global dan menahan tekanan harga naik di seluruh rantai bahan baku petrokimia downstream.
Written by: Aiman Haikal