Oil treaded water as geopolitics prop up prices amid looming supply glut
Oil prices ended Tuesday little changed, as a renewed geopolitical risk premium offset mounting concerns over a looming global supply surplus.
Harga minyak ditutup hampir sama pada Selasa, karena premi risiko geopolitik kembali muncul mengimbangi meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi kelebihan pasokan global. Setelah menguat sekitar 2% pada sesi lalu, harga acuan cenderung stabil seiring pelaku pasar menilai ulang memudarnya prospek gencatan senjata Rusia–Ukraina, bersamaan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Kontrak future minyak bumi Brent pengiriman Februari ditutup turun 2 sen, atau 0,03%, menjadi US$61,92 per barel.
Minyak bumi WTI melemah 13 sen, atau 0,22%, menjadi US$57,95 per barel.
Konsolidasi pasar ini mencerminkan penyesuaian ekspektasi tajam, optimisme terhadap kesepakatan damai Rusia–Ukraina dalam waktu dekat terhenti, sehingga kembali memunculkan resiko konflik yang menahan harga dalam kisaran sempit. Titik balik bearish diperkirakan akan muncul dari gencatan senjata yang sempat mulai diperhitungkan sebagian pelaku pasar untuk tahun 2026 kini terdorong maju lebih jauh.
Risiko dari sisi pasokan diperkuat perbedaan sikap publik yang tidak biasa antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terkait Yaman. Serangan udara pimpinan Saudi terhadap pelabuhan Mukalla, dilaporkan menargetkan aliran senjata ke kelompok separatis di selatan, mendorong Riyadh menyebut keamanan nasionalnya sebagai “garis merah”, sementara keputusan Abu Dhabi selanjutnya mengakhiri misi kontra-terorisme menambah ketidakpastian regional. Bersamaan gangguan yang masih berlangsung termasuk penangguhan ekspor CPC Blend dan berlanjutnya pembatasan AS terhadap minyak bumi Venezuela menjadikan faktor-faktor ini memberi perlindungan terhadap penurunan harga. Tapi momentum kenaikan tetap terbatas karena kekhawatiran struktural akan kelebihan pasokan, sehingga pasar bertahan dalam keseimbangan rapuh.
Written by: Aiman Haikal
