Freightos Baltic: Global supply chains face geopolitical shocks and pre-LNY freight surge
Despite the recent rally, the broader structural picture remains constraining. While Asia–Mediterranean rates have returned to their 2025 peak-season highs, overall Asia–Europe pricing is still roughly 40% lower year on year.
|
Route |
Cost (USD/FEU) |
Changes |
|
Updated on 06 January 2026 |
||
|
Asia – US West Coast |
$ 2,617 |
á22% |
|
Asia – US East Coast |
$ 3,757 |
á12% |
|
Asia – Northern Europe |
$ 3,000 |
á9% |
|
Asia – Mediterranean |
$ 4,844 |
á 21% |
Baca lebih banyak di Freightos
Rantai pasok global tengah mendapat pertemuan antara gangguan geopolitik dan faktor musiman pasar mengikuti operasi militer singkat AS di Venezuela serta penyesuaian kebijakan perdagangan Amerika. Operasi itu memicu penutupan sementara pelabuhan peti kemas terbesar kedua di Venezuela, menyebabkan gangguan singkat pada logistik regional. Tapi implikasinya terhadap perdagangan peti kemas global diperkirakan kecil, mengingat volume tahunan negara itu relatif kecil, sekitar 1 juta TEU, serta ketersediaan pelabuhan alternatif di wilayah sekitar untuk pengalihan kargo.
Perhatian justru beralih ke perkembangan kebijakan perdagangan AS, di mana keputusan terbaru menambah ketidakpastian baru terhadap prospek regulasi. Departemen Perdagangan menunda kenaikan tarif kayu dan furnitur yang semula dijadwalkan pada 1 Januari selama satu tahun, serta membatalkan rencana kenaikan tarif impor pasta Italia. Langkah-langkah ini, dengan luas dipandang sebagai upaya meredam tekanan biaya lokal, mempersulit ekspektasi mengenai arah strategi perdagangan AS.
Pelaku pasar kini mencermati dengan saksama respons pemerintah jika putusan Mahkamah Agung yang akan datang membatalkan tarif khusus negara yang diberlakukan berdasarkan International Emergency Economic Powers Act. Hasil itu berpotensi semakin mengguncang lingkungan kebijakan yang sudah cair, dampak lanjutan terhadap arus perdagangan dan perilaku kontraktual.
Di tengah kondisi ini, pasar angkutan laut memulai tahun dengan lonjakan tarif signifikan, seiring operator memanfaatkan permintaan menjelang Tahun Baru Imlek mendorong kenaikan tarif umum (General Rate Increases/GRI). Tarif spot Asia–Eropa Utara naik 9% minggu lalu menjadi sekitar US$3.000/FEU, sementara tarif Asia–Mediterania melonjak lebih dari 20% ke sekitar US$4.800/FEU. Sejak pertengahan Desember, tarif di rute-rute itu masing-masing meningkat 23% dan 45%.
Meski terjadi reli baru-baru ini, gambaran struktural yang meluas tetap menekan. Walaupun tarif Asia–Mediterania kembali ke level puncak musim 2025, harga keseluruhan Asia–Eropa masih sekitar 40% lebih rendah dibanding tahun lalu. Kesenjangan ini menegaskan dampak peredam dari ekspansi armada cepat, yang sebagian besar mengimbangi keketatan kapasitas akibat pengalihan rute Laut Merah masih berlangsung.
Rute transpasifik mencerminkan kenaikan serupa. Tarif angkutan ke Pantai Barat AS melonjak 22% menjadi US$2.617/FEU, memperpanjang kenaikan menjadi lebih dari 30% sejak pertengahan Desember. Tarif ke Pantai Timur AS meningkat 12% menjadi US$3.757/FEU, naik sekitar 20% dalam waktu kurang dari satu bulan. Berbeda dengan upaya GRI yang gagal pada kuartal keempat, kenaikan ini sejauh ini terbukti bertahan, memperlihatkan permintaan Tahun Baru Imlek memberikan dukungan waktu dekat.
Tapi setelah periode musiman berlalu, fundamental diperkirakan kurang mendukung. Total volume diproyeksikan sekitar 10% lebih rendah dibanding tahun lalu dan kapasitas kapal terus bertambah, tarif angkutan luas diperkirakan akan tetap jauh di bawah puncak yang tercatat pada tahun lalu setelah permintaan didorong liburan mereda.
Written by: Farid Muzaffar
