Jan 16, 2026 5:09 a.m.

Oil hit seven-week high as situation in Iran continue to stoke supply fears

Prices climbed on Monday to their highest levels in seven weeks.

Title

Brent NYMEX

Available in

Harga minyak naik pada hari Senin ke level tertinggi dalam sekitar tujuh minggu, didorong meningkatnya ketegangan di Iran memicu kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan, meski ekspektasi kembalinya ekspor dari Venezuela membatasi kenaikan lagi.

Minyak bumi Brent naik $0,53 atau 0,8% dan ditutup $63,87 per barel, menandai penutupan tertinggi sejak 18 November.

WTI** menguat $0,38 atau 0,6% menjadi $59,50, level penutupan terkuat sejak 5 Desember.

Reli ini mencerminkan meningkatnya ketegangan geopolitik di Iran, di mana otoritas menanggapi protes nasional dengan tindakan keras mematikan. Amerika Serikat memperingatkan kemungkinan aksi militer, sehingga menambahkan risiko geopolitik pada harga minyak bumi. Data analis pengiriman memperlihatkan Iran menahan volume minyak yang mencapai rekor di laut, sekitar 50 hari produksi, seiring negara itu berupaya mengamankan pasokan di tengah melemahnya permintaan China.

Namun, sentimen bullish itu diredam indikasi Venezuela sedang bersiap melanjutkan ekspor dalam skala besar mengikuti perubahan politik di Caracas. Washington mengindikasikan hingga 50 juta barel minyak bumi yang sebelumnya terkena sanksi bisa dikirim ke Amerika Serikat, proses pengiriman diperkirakan dimulai pada minggu datang. Sementara para pedagang minyak global dilaporkan tengah mengamankan kapal tanker melanjutkan kembali operasi ekspor.

Para analis memperingatkan harga minyak bisa menghadapi tekanan penurunan sepanjang 2026 seiring masuknya pasokan baru ke pasar, meski volatilitas ekstrem diperkirakan akan terus berlanjut akibat risiko geopolitik di Iran, Rusia, dan Venezuela. Kekhawatiran pasokan semakin diperkuat kementerian energi Azerbaijan, melaporkan ekspor minyak turun menjadi 23,1 juta ton pada 2025 dari 24,4 juta ton pada tahun lalu.

Para investor juga tetap mewaspadai potensi serangan terhadap infrastruktur energi Rusia serta kemungkinan pengetatan sanksi AS terhadap Moskow. 


Written by: 
Aiman Haikal