Oil rebounded by nearly 2% as US-Iran naval clash reignites supply fears
Crude oil futures rallied on Tuesday, regaining a portion of the previous session’s steep losses amid fears of an military escalation in the Arabian Sea.
Kontrak future minyak bumi menguat pada hari Selasa, memulihkan sebagian dari penurunan tajam pada sesi lalu di tengah kekhawatiran akan eskalasi militer di Laut Arab. Perubahan cepat sentimen ini didorong ancaman baru terhadap jalur transit penting Selat Hormuz serta data industri terlihat penarikan besar-besaran stok minyak bumi AS.
Kontrak future Brent ditutup naik US$1,03, atau 1,6%, menjadi US$67,33 per barel.
WTI ditutup naik US$1,07, atau 1,7%, menjadi US$63,21 per barel.
Risiko geopolitik, sempat menguap selama aksi jual hari Senin, kembali muncul setelah militer AS menembak jatuh sebuah drone Iran yang “agresif” mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln. Ketegangan semakin meningkat mengikuti laporan kapal-kapal bersenjata Iran mengganggu sebuah tanker berbendera AS di Selat Hormuz menjadi sebuah titik sempit maritim global yang menangani sebagian besar ekspor minyak bumi dari Arab Saudi, Irak, dan UEA.
Momentum bullish semakin diperkuat setelah penutupan pasar oleh data industri yang memperlihatkan pengetatan pasar fisik. American Petroleum Institute (API) melaporkan penurunan tajam stok minyak bumi AS lebih dari 11 juta barel pada minggu lalu. Kontraksi ini mengindikasikan konsumsi tetap kuat sementara pasokan kesulitan untuk pulih, sehingga memberikan dasar fundamental bagi harga.
Sementara serangan Rusia berkelanjutan terhadap infrastruktur energi Ukraina yang melanggar gencatan senjata energi yang rapuh memperkuat ekspektasi sanksi terhadap ekspor minyak Moskow akan tetap berlaku. Hal ini memastikan sebagian signifikan pasokan global tetap terbatas, sehingga menjaga keseimbangan global tetap ketat terlepas dari fluktuasi diplomatik waktu pendek.
Written by: Aiman Haikal
