Feb 06, 2026 1:48 p.m.

Crude climbed 3% as traders weigh US-Iran talks, while US inventories decline

Oil prices edged higher on Thursday as traders weighed conflicting signals over the status of nuclear negotiations between the United States and Iran, a dynamic that has intensified speculation about potential US military action

Title

Available in

Harga minyak naik tipis pada Kamis karena para pelaku pasar menimbang sinyal yang saling berlawanan terkait status negosiasi nuklir antara Amerika Serikat dan Iran, sebuah dinamika meningkatkan spekulasi mengenai potensi aksi militer AS dan dampaknya terhadap pasokan global.

Minyak Brent ditutup naik $2,13 atau 3,16% menjadi $69,46 per barel.

Minyak WTI naik $1,93 atau 3,05% menjadi $65,14 per barel.

Harga sempat reli lebih awal pada sesi perdagangan setelah muncul laporan Washington menolak permintaan Teheran mengubah lokasi dan format pembicaraan yang direncanakan, menurut Axios yang mengutip dua pejabat AS. Meningkatkan sensitivitas pasar, Presiden AS memperingatkan dalam sebuah wawancara Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei “seharusnya sangat khawatir,” komentar yang ditafsirkan para pedagang sebagai meningkatnya risiko konfrontasi.

Pelaku pasar tetap mencermati risiko geopolitik di Timur Tengah, di mana eskalasi apa pun yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran dapat mengancam jalur pelayaran utama dan mengganggu produksi minyak bumi Iran yang sekitar 3,3 juta barel per hari.

Mendukung sentimen bullish, data Badan Informasi Energi AS (EIA) terlihat penurunan stok minyak bumi lokal lebih besar dari perkiraan pada minggu lalu di tengah cuaca musim dingin parah. Stok minyak bumi AS turun 3,5 juta barel menjadi 420,3 juta barel, sementara produksi minyak lokal turun ke level terendah sejak November 2024. Para analis dalam sebuah jajak pendapat lalu memperkirakan kenaikan sebesar 489.000 barel.

 


Written by:
Farid Muzaffar