Oil steadied as traders parse US-Iran signals; massive inventory build looms
Crude oil futures settled slightly lower on Tuesday, as market participants adopted a wait-and-see stance regarding the trajectory of US-Iran diplomatic relations.
Futures minyak bumi ditutup sedikit turun pada hari Selasa, karena para pelaku pasar bersikap wait and see terkait arah hubungan diplomatik AS-Iran. Pergerakan harga terbatas mencerminkan pasar terjebak antara ancaman gangguan pasokan di Timur Tengah yang masih membayangi dan munculnya sinyal bearish perekonomian AS.
Futures Brent ditutup turun $0,24, atau 0,3%, pada $68,80 per barel.
WTI ditutup turun $0,40, atau 0,6%, pada $63,96 per barel.
Premi risiko geopolitik sebelumnya meningkat tajam di awal minggu kini mereda sementara para pedagang mencermati sinyal beragam dari Washington dan Teheran. Sementara Presiden AS Donald Trump menyatakan dalam sebuah wawancara Iran ingin mencapai kesepakatan terkait program nuklir dan rudal balistik, muncul laporan pejabat AS sedang mempertimbangkan penyitaan kapal tanker Iran yang sebuah langkah bisa memicu pembalasan segera di Selat Hormuz. Dikotomi ini membuat pasar enggan menentukan arah tanpa bukti konkret mengenai terobosan diplomatik atau gangguan fisik terhadap arus pasokan.
Momentum bearish semakin cepat setelah penutupan perdagangan mengikuti data mengejutkan mengenai keseimbangan pasokan AS. American Petroleum Institute (API) melaporkan lonjakan besar stok minyak bumi AS sebesar 13,4 juta barel untuk minggu yang berakhir 6 Februari, jauh melampaui ekspektasi analis yang memperkirakan kenaikan tipis sebesar 100.000 barel. Membengkaknya stok, ditambah data memperlihatkan penjualan ritel AS tak terduga stagnan pada bulan Desember, mengindikasikan pertumbuhan permintaan mungkin melambat di saat kelebihan pasokan masih bertahan.
Sementara para pedagang mencatat India membeli enam juta barel minyak bumi dari Afrika Barat dan Timur Tengah, menghindari minyak asal Rusia dalam upaya untuk selaras dengan tujuan perdagangan AS. Selain itu, EIA memperkirakan produksi Venezuela dapat pulih sepenuhnya pada pertengahan 2026 setelah perluasan lisensi AS, berpotensi menambah pasokan lagi ke pasar yang sudah menghadapi prospek permintaan tidak pasti.
Written by: Aiman Haikal
