Oil soared as US–Iran tensions mount, as traders price in renewed supply risk
Oil posted its biggest gain since October, rising more than 4% on Wednesday as escalating tensions between the US and Iran and stalled diplomacy over the Ukraine conflict prompted traders to price in heightened supply risks.
Minyak mencatat kenaikan terbesar sejak Oktober, melonjak lebih dari 4% pada hari Rabu karena meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran serta mandeknya diplomasi terkait konflik Ukraina mendorong para pedagang memperhitungkan risiko gangguan pasokan lebih tinggi.
Minyak bumi Brent ditutup naik $2,93, atau 4,35%, menjadi $70,35 per barel, sementara WTI AS naik $2,86, atau 4,59%, ke $65,19. Kedua acuan itu mencatat penutupan tertinggi sejak 30 Januari, pulih dari level terendah dua minggu pada sesi lalu.
Kenaikan ini didorong laporan potensi aksi militer AS terhadap Teheran dapat melampaui serangan terbatas dan berkembang menjadi kampanye selama beberapa minggu, Israel disebut-sebut mendukung pendekatan lebih keras. Sementara perundingan antara Ukraina dan Rusia di Jenewa berakhir tanpa terobosan, memperkuat ketidakpastian geopolitik lebih luas.
Namun, perhatian terbesar tertuju pada Selat Hormuz, jalur penting bagi arus minyak bumi global, setelah media pemerintah Iran melaporkan penutupan sementara terkait latihan militer. Meski belum terjadi gangguan berkepanjangan, perkembangan itu menyoroti kerentanan pasokan dari kawasan itu.
Beberapa analis, bagaimanapun, memperingatkan eskalasi tajam mungkin dibatasi politik domestik AS. Pemilu paruh waktu semakin dekat, Presiden Donald Trump mungkin enggan mengambil risiko lonjakan harga bahan bakar yang bisa membebani para pemilih, sehingga membatasi ekspektasi aksi militer segera meskipun premi risiko tetap tinggi.
Written by: Farid Muzaffar
