Crude sank nearly 11% as energy strikes pause cools worsened supply fears
Markets scaled back following Trump’s decision to delay potential strikes on Iranian energy infrastructure.
Brent NYMEX
Harga minyak berbalik turun hampir 11% pada hari Senin, seiring pasar mengurangi risiko geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan menunda potensi serangan terhadap infrastruktur energi Iran, disertai tanda-tanda kemajuan dalam upaya diplomatik. Perubahan ini terjadi menjelang tenggat penting yang sebelumnya memicu kekhawatiran akan eskalasi lebih luas dalam konflik yang berlangsung selama empat minggu.
Minyak bumi Brent turun $12,25 atau 10,9% menjadi ditutup pada $99,94 per barel, turun dari penutupan Jumat yang merupakan level tertinggi sejak Juli 2022, sementara WTI turun $10,10 atau 10,3% menjadi $88,13 per barel.
Koreksi ini terlihat betapa cepatnya risiko terhapus dari harga, kedua acuan mencatat volatilitas kontrak future 30 hari naik ke level yang terakhir terlihat pada April 2022. Di sektor downsteram, kontrak future bensin dan solar AS turun sekitar 10%, membalikkan kenaikan dari sesi lalu yang sempat mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun.
Perdagangan tetap volatil sepanjang hari. Harga sempat turun hampir 15% sebelum memangkas sebagian kerugian ketika Iran meningkatkan retorika dan postur militernya, meluncurkan serangan baru di kawasan serta menolak klaim adanya negosiasi dengan Washington. Teheran juga memperingatkan bisa menargetkan aset energi Israel dan infrastruktur yang terkait dengan operasi AS di kawasan Teluk jika ketegangan semakin meningkat.
Meski terjadi penurunan, prospek pasokan tetap rapuh. Kerusakan pada fasilitas utama di kawasan Teluk dan gangguan berkelanjutan di Selat Hormuz, mencakup sekitar 20% aliran minyak dan LNG global, terus menopang risiko pasar. Beberapa kargo masih bergerak, termasuk pengiriman LPG dari Uni Emirat Arab dan Kuwait ke India, namun keseluruhan arus perdagangan tetap sangat terbatas. Estimasi pasar masih terlihat potensi kehilangan pasokan sebesar 7–10 juta barel per hari, membuat harga minyak sangat sensitif terhadap perkembangan selanjutnya.
Written by: Farid Muzaffar
