India scraps petchem import duties temporarily as oil disruptions squeeze domestic supply
India has moved to temporarily eliminate import duties on key petrochemical products, seeking to stabilise domestic availability amid severe supply disruptions triggered by ongoing oil market turmoil.
India mengambil langkah sementara menghapus bea impor pada produk petrokimia utama, guna menstabilkan ketersediaan lokal di tengah gangguan pasokan serius yang dipicu gejolak pasar minyak yang sedang berlangsung.
Dalam pemberitahuan tertanggal 1 April 2026, Kementerian Keuangan mengonfirmasi bea atas berbagai impor bahan kimia dan petrokimia akan diturunkan menjadi 0% mulai 2 April hingga 30 Juni 2026. Kebijakan ini mencakup sekitar 40 item dalam berbagai kode HS, termasuk grade polimer utama seperti PE, PP, polistirena, ABS, dan PVC. Sebelumnya, seluruh produk itu dikenakan bea impor sebesar 7,5%.
|
No |
HS Code |
Description of goods |
Previous Duty |
New Duty |
|
Combined and reported by CommoPlast |
||||
|
1 |
3901 |
Polymer of ethylene (Including Ethylene Vinyl Acetate) |
7.5% |
0% |
|
2 |
3902 10 00 3902 30 00 3902 90 00 |
Polypropylene |
7.5% |
0% |
|
3 |
3903 11 00 3903 19 10 3903 19 90 |
Polystyrene |
7.5% |
0% |
|
4 |
3903 20 00 |
Styrene acrylonitrile (SAN) |
7.5% |
0% |
|
5 |
3903 30 00 |
Acrylonitrile Butadiene Styrene (ABS) |
7.5% |
0% |
|
6 |
3904 10 10 3904 10 20 3904 10 90 |
Polyvinyl Chloride (PVC) |
7.5% |
0% |
Perubahan kebijakan ini menegaskan tekanan semakin besar pada sektor petrokimia India setelah perang Iran dan penutupan Selat Hormuz. Ketergantungan impor sekitar 87% untuk kebutuhan minyak bumi, kekurangan bahan baku semakin meningkat dan mengganggu rantai produksi downstream.
Situasi ini diperparah kebijakan pemerintah lalu yang memprioritaskan LPG untuk konsumsi rumah tangga, sehingga membatasi penggunaannya sebagai bahan baku petrokimia. Kebijakan ini memaksa banyak pabrik lokal menurunkan tingkat produksi dan melakukan penghentian sebagian, yang signifikan mengurangi output polimer lokal.
Penghapusan sementara bea impor ini diharapkan bisa mendorong impor dan meredakan ketatnya pasokan, sekaligus memungkinkan kilang memprioritaskan produksi bahan bakar transportasi dibanding bahan baku kimia. Namun, efektivitas kebijakan ini mungkin terbatas ketersediaan pasokan global yang masih rendah. Pasokan regional tetap ketat, banyak produsen Asia menyatakan force majeure akibat gangguan upstream yang sama.
Meskipun relaksasi tarif ini memberikan ruang napas waktu pendek, kemampuan India mengamankan volume tambahan akan sangat bergantung pada kondisi pasokan global. Gangguan regional masih berlangsung, persaingan kargo spot kemungkinan akan semakin intens, menjaga pasar polimer tetap kuat meskipun terdapat tekanan dari sisi permintaan.
