Oil slid to six-week low as US - Iran ceasefire hopes ease supply fears
Global crude oil benchmarks tumbled on Friday, 29 May 2026, extending their losses to six-week lows as renewed optimism over a potential ceasefire between the United States and Iran
Harga minyak bumi global jatuh pada Jumat, 29 Mei 2026, memperpanjang penurunan ke level terendah dalam enam minggu terakhir seiring meningkatnya optimisme terhadap kemungkinan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, yang meredakan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Kontrak future minyak bumi Brent untuk pengiriman Juli, berakhir pada Jumat, ditutup pada level US$92,05/barel, turun US$1,66 atau 1,8% dibanding sesi lalu.
Sementara itu, minyak bumi WTI turun US$1,54 atau 1,7% menjadi US$87,36/barel saat penutupan perdagangan.
Penurunan tajam ini terjadi setelah muncul laporan Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan sementara pada Kamis untuk memperpanjang gencatan senjata yang sudah ada selama 60 hari lagi, sekaligus melonggarkan pembatasan pelayaran melalui Selat Hormuz. Perkembangan itu memicu harapan lalu lintas kapal melalui jalur strategis itu dapat kembali pulih bertahap, sehingga mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan berkepanjangan pada pasokan energi global.
Harga minyak bumi sebenarnya sudah bergerak turun sepanjang Mei di tengah spekulasi semakin kuat kedua pihak pada akhirnya akan mencapai suatu bentuk kesepakatan. Pelaku pasar menilai kemajuan diplomatik terbaru ini sebagai sinyal ketegangan dapat terus mereda, sehingga mengurangi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak pada awal bulan.
Namun, para analis mengingatkan ketidakpastian signifikan masih tetap ada meskipun terlihat adanya terobosan diplomatik. Putaran negosiasi lalu juga sempat memunculkan optimisme serupa sebelum akhirnya gagal mencapai kesepakatan, berujung pada kebuntuan berkepanjangan antara kedua belah pihak.
Sementara aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih berada jauh di bawah tingkat sebelum konflik. Beberapa kapal yang melintasi jalur maritim itu dilaporkan mengalami serangan dalam beberapa hari terakhir, terlihat risiko keamanan bagi pemilik kapal dan pelaku perdagangan energi di kawasan Teluk Persia masih tetap tinggi, terlepas dari apakah kesepakatan damai formal nantinya benar-benar tercapai.
