Jun 17, 2026 1:55 a.m.

Kinetic escalations and 7.2-million-barrel US stock draw propelled oil benchmarks higher

Oil prices advanced Wednesday as aggressive Washington rhetoric and expanding Middle East military actions restored prompt risk premiums.

Title

Brent NYMEX

Available in

Harga minyak bumi naik pada hari Rabu setelah retorika agresif Washington dan meluasnya aksi militer di Timur Tengah kembali mengangkat risiko waktu pendek.

Brent naik US$1,65 (1,8%) menjadi US$93,10/barel, sementara WTI AS menguat US$1,83 (2,0%) menjadi US$90,03/barel.

Pembalikan arah ini terjadi setelah muncul peringatan pemerintah AS mengenai potensi serangan besar terhadap Iran, operasi balasan AS setelah jatuhnya helikopter Apache, serta serangan presisi terhadap kapal tanker dianggap tidak mematuhi aturan di Teluk Oman.

Kenaikan harga sempat tertahan setelah pemerintah AS mengungkap pasukan mereka diam-diam mengawal pengiriman pasokan sebesar 100 juta barel melewati Selat Hormuz yang masih dibatasi. Namun, ketegangan struktural meningkat setelah resolusi IAEA didukung AS memerintahkan Teheran mendeklarasikan stok uranium yang diperkaya.

Di saat sama, lonjakan harga energi mendorong inflasi AS pada Mei naik pada laju tercepat dalam tiga tahun, memperkuat ekspektasi pasar Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada Desember.

Fundamental kenaikan harga ini ditopang penyusutan tajam stok komersial. EIA mengonfirmasi stok minyak bumi lokal AS turun 7,2 juta barel minggu lalu, hampir dua kali lipat dari perkiraan penurunan sebesar 4,0 juta barel. Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR) berada pada level terendah sejak Agustus 2023, Departemen Energi AS mengumumkan fasilitas pinjaman minyak darurat sebesar 40 juta barel untuk menahan lonjakan harga bahan bakar, sementara lemahnya impor China masih membatasi penguatan diferensial spot global.

Written by: Aiman Haikal