Jul 14, 2026 2:20 p.m.

Crude retreated to pre-war floor as Gulf output ramps and Saudi price-slashing intensifies

Global crude benchmarks retreated to levels unseen since late February, as a confluence of surging regional production and aggressive Saudi discounting signaled the end of the war-risk premium.

Title

Brent NYMEX

Available in

Harga acuan minyak bumi global kembali turun ke level terendah sejak akhir Februari, seiring kombinasi lonjakan produksi regional dan pemotongan harga agresif oleh Arab Saudi yang menandai berakhirnya risiko perang (war-risk premium).

Kontrak future Brent ditutup pada $71,99/barel, turun 13 sen, sementara WTI Amerika Serikat ditutup pada $68,55/barel, melemah 14 sen.

Penurunan ini merupakan pembalikan signifikan dari level di atas $126/barel yang tercatat pada April, sekaligus menghapus kenaikan historis akibat gangguan pasokan energi dipicu penutupan Selat Hormuz.

Momentum bearish itu didorong penyesuaian struktural di sisi pasokan. Arab Saudi menerapkan pemotongan harga bulanan paling agresif sejak 2003 menetapkan harga Arab Light untuk pasar Asia pada diskon $1,50/barel terhadap rata-rata Oman/Dubai. Strategi penetapan harga ini, ditambah produksi Uni Emirat Arab yang mendekati rekor dan melampaui 3,8 juta barel per hari, terlihat produsen di kawasan Teluk kini lebih memprioritaskan pangsa pasar daripada stabilisasi harga, yang efektif memicu perang harga di kawasan itu.

Meskipun OPEC+ menyetujui tambahan target produksi sebesar 188.000 barel per hari untuk Agustus, pendorong utama pasar saat ini adalah normalisasi cepat terhadap aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. Peningkatan arus kapal tanker telah membanjiri pasar spot, melampaui tingkat permintaan minyak bumi saat ini. Terlepas dari masih berlanjutnya retorika geopolitik antara Washington dan Teheran, arus fisik minyak bumi terus meningkat memberikan tekanan turun kuat terhadap keseluruhan pasar energi.

Di sektor downstream, kembalinya jalur pelayaran utama melalui Terusan Suez, yang memangkas waktu transit hingga empat minggu, semakin menekan risiko dalam perdagangan energi global. Seiring meningkatnya stok dan pulihnya rantai pasok fisik, fokus pasar kini bergeser dari kekhawatiran terhadap keterbatasan pasokan menuju potensi kelebihan pasokan, sehingga membatasi peluang pemulihan harga minyak bumi dalam waktu dekat.

Written by: Aiman Haikal