Freightos Baltic: Container rates spike as Hormuz blockade enters fourth month and peak season sets in
Nearly 100 days into the US-Israel-Iran conflict, the Strait of Hormuz remains closed with no resolution in sight as both sides continue exchanging fire and sanctions. Carriers have passed on war-elevated fuel costs across major east-west lanes throughout the softer months of March to May, keeping steady upward pressure on freight rates.
|
Route |
Cost (USD/FEU) |
Changes |
|
Updated on 02 June 2026 |
||
|
Asia – US West Coast |
$ 3,212 |
á 1% |
|
Asia – US East Coast |
$ 4,670 |
â4% |
|
Asia – Northern Europe |
$ 2,982 |
á 3% |
|
Asia – Mediterranean |
$ 4,388 |
á 1% |
Baca lebih detail di Freightos
Hampir 100 hari sejak konflik AS-Israel-Iran dimulai, Selat Hormuz masih tetap ditutup tanpa adanya penyelesaian terlihat, sementara kedua pihak terus saling melancarkan serangan dan sanksi. Perusahaan pelayaran meneruskan kenaikan harga bahan bakar akibat perang ke berbagai rute utama timur-barat selama periode permintaan lebih lemah pada Maret hingga Mei, sehingga terus memberikan tekanan kenaikan pada tarif angkutan laut.
Rata-rata tarif mingguan menutup bulan Mei relatif stabil, tarif lintas Pasifik berada di sekitar US$3.200/FEU menuju Pantai Barat AS dan US$5.000/FEU menuju Pantai Timur AS. Sementara itu, rute Asia-Eropa berada di sekitar US$3.000/FEU ke Eropa Utara dan US$4.400/FEU ke Mediterania. Namun, stabilitas itu kini mulai berubah, penerapan General Rate Increase (GRI) per 1 Juni dan biaya tambahan musim puncak (peak season surcharge) mendorong tarif harian naik US$1.000–1.800/FEU pada rute-rute utama timur-barat hanya dalam minggu ini.
Permintaan musim puncak datang lebih awal mendorong perusahaan pelayaran untuk mengurangi alokasi kontrak dan menerapkan harga premium lebih cepat dari jadwal. Kenaikan tarif tambahan juga diumumkan untuk pertengahan bulan. Tarif harian Asia-Eropa kini melampaui puncak musim ramai pada Juni dan Juli tahun lalu, sementara tarif lintas Pasifik masih sekitar US$1.000/FEU di bawah lonjakan Juli tahun lalu yang dipicu percepatan impor akibat tarif perdagangan. Kemacetan terkait perang di beberapa pelabuhan singgah serta hambatan transportasi kereta api di Jerman juga menambah risiko keterlambatan pengiriman.
Di sisi tarif perdagangan, importir AS berpotensi mendapatkan pengembalian sekitar setengah dari US$166 miliar yang dikumpulkan melalui bea IEEPA, namun hanya untuk barang impor yang prosesnya belum diselesaikan US Customs and Border Protection (CBP). Pemerintahan Trump mengindikasikan kemungkinan akan menentang pengembalian dana untuk entri yang sudah dilikuidasi, dapat memaksa importir terdampak untuk membawa kasus itu ke pengadilan perdagangan dan signifikan memperlambat proses pemulihan dana. Para pengacara perdagangan menyarankan perusahaan yang memiliki entri yang sudah dilikuidasi untuk segera mengajukan keberatan (protest) selama jangka waktunya masih tersedia.
Perang dagang juga terus mengubah arus perdagangan global. Volume impor AS mengalami pelemahan, sementara perdagangan Asia-Eropa tetap naik lebih cepat dibanding laju yang sudah kuat pada tahun 2025. Meningkatnya ketegangan antara China dan Uni Eropa semakin memperumit situasi, Brussel sedang mempertimbangkan regulasi membatasi impor yang mendapat subsidi. Sementara rencana Uni Eropa untuk mengenakan biaya pada paket berharga murah mulai Juli berisiko menimbulkan keterlambatan di perbatasan apabila sistem pelaporan yang, menurut perusahaan pelayaran, masih belum siap, gagal memenuhi tenggat implementasi yang ditetapkan.
Written by: Farid Muzaffar
- [FREE] Freightos Baltic: Renewed Gulf escalation stokes freight risk, but trade flows remain largely intact
- [FREE] Freightos Baltic: Hormuz risk meets weak peak season as carriers fight to hold freight rates
- [FREE] Freightos Baltic: Global container freight rates surge to four-month highs as peak season demand returns
