Brent anchored near $73 to close worst quarter since pandemic as Doha diplomacy stalls
Brent stabilized near $73 to cap its worst quarterly decline since 2020 as a temporary wave of cleared Gulf supply and record US production overrode a diplomatic downgrading of US-Iran peace talks in Doha, dragging prices near pre-war baselines.
Brent NYMEX
Harga acuan minyak bumi dunia ditutup beragam namun umumnya hampir tidak berubah pada hari Selasa, sekaligus membukukan penurunan bulanan dan kuartalan terdalam sejak pandemi COVID-19 pada 2020.
Kontrak Brent turun 23 sen (0,3%) dan ditutup $72,92/barel, sehingga mencatat penurunan sebesar 21% sepanjang Juni dan 38% selama kuartal kedua. Sementara itu, WTI Amerika Serikat turun $1,25 (1,8%) menjadi $69,50/barel.
Koreksi tajam ini signifikan menghapus risiko geopolitik yang terbentuk selama konflik di Timur Tengah dalam empat bulan terakhir, sehingga harga kembali mendekati level sebelum perang pada akhir Februari.
Sentimen pasar future pendek tertekan meredanya optimisme diplomatik di Qatar. Meskipun utusan senior Amerika Serikat tiba di Doha untuk membahas implementasi gencatan senjata sementara yang disepakati pada 17 Juni, pejabat Qatar mengonfirmasi pertemuan politik tingkat tinggi dengan Teheran ditunda. Pembahasan saat ini dibatasi pada isu-isu teknis dan keamanan kawasan, sehingga memperpanjang ketidakpastian mengenai kapan Selat Hormuz dapat kembali dibuka sepenuhnya tanpa syarat.
Stagnasi diplomatik ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya pasokan fisik, seiring kapal-kapal dari kawasan Teluk yang sebelumnya tertahan mulai meninggalkan pelabuhan setelah antrean berhasil diurai. Kondisi itu semakin memperkuat prospek kelebihan pasokan struktural, di mana Morgan Stanley kini memproyeksikan surplus pasokan minyak bumi global sebesar 4,8 juta barel per hari pada 2027.
Semakin memperkuat prospek bearish itu, EIA melaporkan produksi minyak bumi lokal Amerika Serikat mencapai rekor bulanan tertinggi sepanjang sejarah sebesar 13,93 juta barel per hari pada April, didorong tingginya harga selama periode konflik. Namun, tekanan penurunan harga untuk sementara tertahan ketatnya stok komersial lokal. Pasar kini menantikan data stok mingguan, para analis memperkirakan penurunan stok sebesar 4,5 juta barel. Jika terkonfirmasi, hal ini akan menjadi minggu kesepuluh berturut-turut terjadinya penurunan stok minyak bumi Amerika Serikat, menyamai rekor historis terakhir kali terjadi pada Januari 2018.
Written by: Aiman Haikal
