Oil jumped 4% as US Gulf storm shut-ins and Gulf shipping risks defy political truce
Global crude oil futures surged roughly 4% on Thursday as extensive hurricane shut-ins in the US Gulf of Mexico and record tanker strikes in the Middle East overwhelmed temporary diplomatic overtures.
Kontrak future minyak bumi global melonjak sekitar 4% pada Kamis karena penghentian produksi akibat badai yang meluas di Teluk Meksiko AS dan serangan terhadap kapal tanker di Timur Tengah yang mencapai rekor mengalahkan pendekatan diplomatik sementara.
|
BENCHMARK |
SETTLE (US$/BBL) |
CHANGE (US$) |
CHANGE (%) |
TREND |
|
Brent ICE, active front-month (Dec) |
104.28 |
+4.08 |
+4.1% |
▲ UP |
|
WTI NYMEX, front-month |
91.49 |
+3.21 |
+3.6% |
▲ UP |
|
Settlement prices for Thursday, 8 October 2026. Change versus previous settlement. |
||||
|
BRENT Cleared $104 on record Hormuz attacks and fresh sanctions |
WTI Reclaimed $91 as Hurricane Isaias shuts 63% of Gulf output |
Harga minyak bumi reli lebih dari $5 per barel selama perdagangan intraday sebelum memangkas kenaikannya setelah Presiden AS Donald Trump mengesampingkan serangan militer terhadap Teheran menjelang pemilu sela 3 November. Tekanan penurunan juga dibatasi konfirmasi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi kalau Teheran sedang meninjau proposal untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.
Namun, kendala pasokan fisik cepat membatasi penurunan itu. AS memberlakukan sanksi baru terhadap 17 kapal yang mengangkut minyak bumi Iran, sementara serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz meningkat hingga mencapai frekuensi puncak selama masa perang. Meningkatnya ancaman terhadap pelayaran mendorong Prancis dan Arab Saudi menjajaki perlindungan militer bersama untuk terminal Yanbu, sementara Suriah juga mempertimbangkan bantuan keamanan bagi Riyadh.
Di AS, Badai Isaias menghentikan produksi sebesar 1,3 juta bpd, setara dengan 62,9% produksi minyak bumi offshore di Teluk Meksiko, sehingga memaksa evakuasi anjungan pada aset BP, Shell, dan Chevron. Resiko geopolitik terus bertahan di Eropa melampaui kenaikan harga akibat badai di pasar lokal, sehingga memperlebar spread Brent–WTI transatlantik menjadi $12,79 per barel.
Written by: Aiman Haikal
